Landmark Kejujuran; Gugatan Janda Gubernur Jakarta

17 Feb
Bu Henk Ngantung dan 'Batu Karang yang Teguh'

Bu Henk Ngantung dan 'Batu Karang yang Teguh


Landmark Kejujuran; Gugatan Janda Gang Jambu

… (atawa Gugatan Janda Gubernur Jakarta)

(Tulisan ini pertama kali diterbitkan di /oleh kebaikan http://www.baltyra.com)

 

“…untuk D. Layuk Allo (senior) yang berulang tahun pada bulan Juni, warga Jakarta sejak 1950-an yang pertama kali mengenalkan karya-karya sketsa Henk Ngantung pada penulis – lewat buku sketsa yang dimilikinya, meski ia bukan seorang seniman…”

Metropolitan Jakarta berpesta setiap Juni, rayakan hari jadi. Pesta diskon di mal-mal, pesta hiburan rakyat di Monas dan sebagainya. Namun tak semua berpesta-ria, janda Gubernur Henk Ngantung salah satunya.

Ny. Evie Ngantung-Mamesah sulit menikmati meriahnya Jakarta. Dari rumah di Gang Jambu, ia menggugat. Berjuang demi kebanggaan dan hak keluarga.

Awalnya, pada 2010, mal mewah Grand Indonesia meluncurkan logo bisnis. Logo itu, menurut Evie Ngantung, sama dengan karya suaminya berupa rancangan Tugu Bangsa Indonesia Menyambut Hari Depannya. Evie Ngantung tak pernah dimintai ijin.

Grand Indonesia (GI) berkilah logonya bukan jiplakan rancangan Henk Ngantung (HN), tapi siluet patung Tugu Selamat Datang. Patung di muka blok Grand Indonesia itu sesungguhnya tampak berdiri menyamping.

Gugatan soal logo GI tak beda dengan protes masyarakat atas pembajakan lagu Rasa Sayange serta penggunaan tanpa ijin video tarian Pendet. Sebagaimana pembuktian protes terhadap otoritas pariwisata Malaysia, pengujian gugatan soal logo tidaklah sulit. Kebenaran sering hanya tertutupi selapis debu.

 

Proses Kreatif Tugu

Pada 1977, HN bersaksi lewat Karya Jaya, yang digagas oleh Bang Ali Sadikin dan diterbitkan Pemerintah DKI Jakarta. Pertanggungjawaban dirinya, yang pernah menjabat gubernur (1964-1965), dan sebelumnya sebagai wakil gubernur (1960-1964).

Sebagai gubernur pertama yang berlatar belakang seniman profesional. Jelas perannya mencipta karya-karya estetis bagi ruang publik. Mulai dari lambang DKI Jakarta, lambang Kostrad hingga Tugu Pembebasan Irian Barat. Juga tentunya landmark berjuluk populer Tugu Selamat Datang (TSD).

Sebagai perancang tunggal, HN punya nama spesial untuk TSD yakni Tugu Bangsa Indonesia Menyambut Hari Depannya (TBIMHD). Itu disebutkannya tahun 1961, di dalam sidang DPRD. Pada 1962, tugu itu diresmikan Gubernur Soemarno.

Dalam perujudan TBIMHD menjadi anasir arsitektur kota di koridor Thamrin-Sudirman, kolaborasi perancang Henk Ngantung dan pelaksana Edhi Sunarso adalah hubungan generik. Lazim dalam projek pembangunan.

Sebagai perancang, HN membuat gambar dasar dan perspektif. Setelah persetujuan final, rancangan dibangun. Ujud patung di puncak, gubahan tiga dimensi berbahan logam, dikerjakan studio Edhi Sunarso. Sementara tiang tugu ditangani kontraktor konstruksi sipil. Pematung Nyoman Nuarta menempuh proses serupa, meski kerap jadi aktor tunggal perancangan sekaligus konstruksi patung berskala monumental.

TBIMHD adalah sukses penciptaan monumen yang paling diakrabi oleh khalayak. Sayang tak banyak yang mencermati ‘sidik jari kreatif’ sang perancang.


Neraca Kebenaran

Penuh keyakinan, Evie Ngantung menyanggah klaim bahwa logo GI adalah siluet karya patung Edhi Sunarso. Melalui media internet, diungkapnya sebuah bukti. Gambar sketsa TBIMHD rancangan HN, suaminya yang juga pendiri Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia).

Sketsa dua dimensi itu amat mirip dengan logo GI. Bila logo jelas sama dengan fisik tugu, maka logo bagai pinang dibelah dua dengan sketsa rancangan TBIMHD.

Guna membuktikan pihak netral juga dapat melihat kesamaan logo GI dan rancangan HN, penulis membuat survai. Untuk diperbandingkan, sketsa TBIMHD dan perspektif ciptaan HN (dalam Karya Jaya) disandingkan dengan logo GI dan potret puncak tugu. Untuk pengujian, digunakan logo Djarum Apresiasi Budaya dan ilustrasi iklan yang memuat citra ‘impresi’ patung TBIMHD.

Pada sekelompok siswa taman kanak-kanak di Kota Bogor, seratus prosen siswa menyatakan logo GI sama dengan sketsa rancangan HN. Semua anak juga mampu melihat perbedaan antara sketsa itu dan logo Djarum Apresiasi Budaya.

Pada kelompok siswa sekolah dasar di kota yang sama, seratus prosen siswa sependapat dengan siswa taman kanak-kanak. Seluruh siswa juga meyakini perspektif rancangan HN sama dengan potret patung di puncak tugu. Sebagian siswa mampu melihat kesamaan antara perspektif tiga dimensi TBIMHD dengan logo GI yang berdimensi dua.

Dalam uji konsistensi, semua siswa sekolah dasar dapat melihat perbedaan antara citra ‘impresi’ patung pada ilustrasi iklan dengan potret puncak tugu. Citra ‘impresi’ yang berbeda jauh dari kesan jiplakan, pernah penulis hasilkan saat belajar Arsitektur Kota dari Almh. Rini Raksadjaja.

Persepsi jujur anak-anak tersebut senada dengan kesimpulan ‘uji forensik’ pada logo, tugu, sketsa dan perspektif.  Penulis menjumpai lebih dari 12 poin kesamaan mayor, yang menegaskan bahwa logo GI sama dengan sketsa dan perspektif rancangan HN. Jumlah itu lebih banyak dari kriteria titik kesamaan sidik jari dalam identifikasi oleh polisi.

Setengah abad berlalu sejak HN resmi mempresentasikan rancangan Tugu Bangsa Indonesia Menyambut Hari Depannya. Kini Jakarta nyaris lupa bahwa sang gubernur, yang wafat tahun 1991, adalah perancang tunggal Tugu Selamat Datang.

Meski Edhi Sunarso telah menuliskan testimoni bahwa Henk Ngantung adalah perancang tugu, Evie Ngantung masih harus berjuang. Dari Gang Jambu di Cawang, janda tua itu menggugat pengakuan dan perlakuan pantas terhadap karya mendiang suami. Dirgahayu Jakarta.   // Bogor, 6 Juni 2011. /ddla/end//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: